Minggu, 30 Oktober 2011

Pandangan yang Tak Tajam

Waktu itu, suatu malam kalau tidak salah. Agak malam, mungkin sekitar jam 11 malam. Aku berjalan di jalan raya ceger dengan menenteng sebungkus makanan yang baru saja kubeli. Sambil berjalan, pandangan mata kusapukan ke sepanjang jalan. Di depan sana, terlihat sesosok manusia yang sedang berbaring membelakangiku di emperan toko dekat masjid Syuhada. Sosok itu tak memakai baju, sehingga tulang belakang yang menyembul karena saking kurus badannya itu jelas terlihat. Celana coklat 3/4 yang dikenakannya pun sepertinya sudah tidak lagi menunjukkan warna aslinya. Lebih gelap, mungkin karena debu yang selalu menerpanya ketika setiap malam ada di posisi seperti ini. Di emperan toko. Di pinggir jalan.


Semakin dekat, aku makin merasa kasihan melihat keadaannya yang makin jelas. Sangat kasian. Aku bertanya dalam hati apakah dia sudah makan malam ini. Terbersit dalam hati, makanan yang aku bawa ini akan kuberikan padanya. Aku terus berjalan mendekat. Makin dekat, makin kuat keinginan memberi. Sampai di suatu jarak yang membuatku bisa melihat apa yang tengah dilakukannya. Aku terkejut.

Dari belakangnya, aku melihat dia sedang merokok.
Ah, niatku pupus.

Ternyata orang ini masih bisa membeli rokok. Padahal mungkin badannya kurang makan. Berbaring di emperan, tanpa baju, tapi merokok. Aku tak habis pikir.

Aku pun bergegas pulang. Berjalan lurus. Menyeberang jalan. Dan akhirnya, sampai ke kos lalu makan. Tak peduli lagi dengan sesosok manusia di emperan toko pinggir jalan, tak berbaju, kurus, dan merokok itu.

Ah, itu kejadian entah kapan. Sudah lama sekali, entah beberapa bulan yang lalu. Atau mungkin juga tahun lalu, ketika aku masih tingkat satu. Yang pasti, hari ini aku mendapati sebuah kenyataan yang di luar dugaan. Sehabis zhuhur di Syuhada tadi, setelah keluar masjid aku melihat sosok itu lagi, masih tanpa baju. Ya, aku masih sering melihatnya setelah kejadian malam itu di sekitar Ceger. Kali ini, dia sedang berjalan berlawanan arah denganku. Sambil berjalan, sesekali dia membungkuk ke tanah seperti sedang mengambil sesuatu. Aku belum tahu apa yang diambilnya, sampai aku hampir berpapasan dengannya. Kau tahu itu apa? Ah, tak terduga. Puntung rokok yang terserak di pinggir jalan. Dipilihnya yang masih 'bagus'. Dan akhirnya kami pun berpapasan.

Ya Allah, apakah rokok yang dihisapnya malam itu adalah hasil memungut seperti barusan kulihat? apakah dia merokok dengan puntung rokok itu semata karena ingin menahan rasa laparnya? uang tidak ada, puntung rokok ada, dan api bisa minta? Astaghfirullah... :'(

0 comments:

Poskan Komentar