Hai, Kawan,
Ujian minggu ini sudah selesai, kan?
Kita istirahat sebentar lah, ya…
Ngobrol dulu,
Nih, ada teh madu hangat, tanpa gula, :-D
Silakan diminum sambil ngobrol,
Bagaimana ujiannya? Yang sudah-sudah tak usah dipikirkan lagi lah ya,
Ambil hikmahnya saja, pasti ada,
“Tidak disebut tawakkal,” kata Ibnu Athoilah, “apabila seseorang gelisah atas apa yang telah diusahakannya”
Hm… Kita pikirkan ujian selanjutnya saja, deh, :-)
Bagaimana rasanya, jika di antara ujian ada waktu rehat seperti sekarang?
Kalau saya, sangat senang, jeda sebentar, lalu bersiap lagi,
Ya, seperti kita tidur, lepaskan semua beban, doa, hirup nafas, lepaskan pelan, dan…tidur,
Wah, bangunnya akan segar sekali, dan siap tempur lagi,
Bagaimana menurutmu? Ya, setuju deh, :-)
Oia, berbicara tentang waktu ujian dan waktu istirahat,
Ada satu kalimat dengan diksi menarik dari sang Nabi,
“Wahai Bilal,” kata Nabi, “istirahatkan kami dengan shalat,”
Begitu setiap kali masuk waktu shalat,
Hm… Pernahkah setelah berjam-jam berkutat dengan materi ujian,
Lalu tiba waktu shalat, kita berseru, “hai Muadzin, istirahatkan saya dengan shalat,”
Ah, mungkin cukup di hati saja,
Yang nampak setidaknya adalah bersegera mengambil wudhu ketika adzan sudah terdengar,
Lalu beranjak ke mesjid dan shalat berjamaah,
Di waktu shalat, kita tak perlu memikirkan ujian, apalagi menghafal materinya,
Ah, bahkan kita dianjurkan istirahat sejenak dari semua itu,
Mau kan diajak istirahat sebentar?
Ya, lupakan sejenak, istirahatkan otak,
Khusyuk menghadapNya,
Hm… Kau tau efeknya?
Materi yang kau baca sebelumnya akan melekat,
Ya, mungkin seperti cat di tembok itu, sebelumnya masih basah,
Kau tinggalkan sebentar, setelah balik, cek saja, sudah kering dan melekat,
Siap dilapisi cat baru, jika tadi baru cat dasar,
Siap menerima materi baru yang masih menunggu,
Kau tentu juga sudah tau,
bahwa ada salah satu bagian otak,
yang hanya bisa dialiri darah ketika kau sujud,
Ah, istirahat yang menyegarkan,
Barangkali ketika sedang galau, bagian itu kering tanpa darah, maka sujudlah
dan luar biasanya,
kau punya lima titik istirahat seperti ini setiap harinya,
di titik-titik yang luar biasa,
sesuai dengan waktu tubuh yang memerlukannya
tentu kau mau memanfaatkannya, kan?
Wah, sudah panjang lebar kita berbicara,
Teh madu hangatmu sudah dingin?
Mau ditambahkan air panas lagi atau ditambahkan es saja sekalian?
Jika ditambahkan air panas, semoga persahabatan kita makin hangat,
Jika ditambahkan es, semoga semua menjadi segar,
Ah, tergantung bagaimana kita memaknainya ternyata,
Begitu pula tentang obrolan kita kali ini,
Silakan dimaknai,
Ujian minggu ini sudah selesai, kan?
Kita istirahat sebentar lah, ya…
Ngobrol dulu,
Nih, ada teh madu hangat, tanpa gula, :-D
Silakan diminum sambil ngobrol,
Bagaimana ujiannya? Yang sudah-sudah tak usah dipikirkan lagi lah ya,
Ambil hikmahnya saja, pasti ada,
“Tidak disebut tawakkal,” kata Ibnu Athoilah, “apabila seseorang gelisah atas apa yang telah diusahakannya”
Hm… Kita pikirkan ujian selanjutnya saja, deh, :-)
Bagaimana rasanya, jika di antara ujian ada waktu rehat seperti sekarang?
Kalau saya, sangat senang, jeda sebentar, lalu bersiap lagi,
Ya, seperti kita tidur, lepaskan semua beban, doa, hirup nafas, lepaskan pelan, dan…tidur,
Wah, bangunnya akan segar sekali, dan siap tempur lagi,
Bagaimana menurutmu? Ya, setuju deh, :-)
Oia, berbicara tentang waktu ujian dan waktu istirahat,
Ada satu kalimat dengan diksi menarik dari sang Nabi,
“Wahai Bilal,” kata Nabi, “istirahatkan kami dengan shalat,”
Begitu setiap kali masuk waktu shalat,
Hm… Pernahkah setelah berjam-jam berkutat dengan materi ujian,
Lalu tiba waktu shalat, kita berseru, “hai Muadzin, istirahatkan saya dengan shalat,”
Ah, mungkin cukup di hati saja,
Yang nampak setidaknya adalah bersegera mengambil wudhu ketika adzan sudah terdengar,
Lalu beranjak ke mesjid dan shalat berjamaah,
Di waktu shalat, kita tak perlu memikirkan ujian, apalagi menghafal materinya,
Ah, bahkan kita dianjurkan istirahat sejenak dari semua itu,
Mau kan diajak istirahat sebentar?
Ya, lupakan sejenak, istirahatkan otak,
Khusyuk menghadapNya,
Hm… Kau tau efeknya?
Materi yang kau baca sebelumnya akan melekat,
Ya, mungkin seperti cat di tembok itu, sebelumnya masih basah,
Kau tinggalkan sebentar, setelah balik, cek saja, sudah kering dan melekat,
Siap dilapisi cat baru, jika tadi baru cat dasar,
Siap menerima materi baru yang masih menunggu,
Kau tentu juga sudah tau,
bahwa ada salah satu bagian otak,
yang hanya bisa dialiri darah ketika kau sujud,
Ah, istirahat yang menyegarkan,
Barangkali ketika sedang galau, bagian itu kering tanpa darah, maka sujudlah
dan luar biasanya,
kau punya lima titik istirahat seperti ini setiap harinya,
di titik-titik yang luar biasa,
sesuai dengan waktu tubuh yang memerlukannya
tentu kau mau memanfaatkannya, kan?
Ada seorang kawan nyeletuk, “wah, banyak yang mendadak religius kalau lagi ujian”
“ya,” yang lain menimpali, “mungkin kita memang perlu banyak ujian tuk sadarkan diri,”
Satu orang lagi menambahi, “aku pun begitu. Doakan aku agar sadar bahwa kehidupan ini pun adalah ujian,”
Boleh kutambahkan? “mungkin mereka lelah, sehingga perlu istirahat,”
Wah, sudah panjang lebar kita berbicara,
Teh madu hangatmu sudah dingin?
Mau ditambahkan air panas lagi atau ditambahkan es saja sekalian?
Jika ditambahkan air panas, semoga persahabatan kita makin hangat,
Jika ditambahkan es, semoga semua menjadi segar,
Ah, tergantung bagaimana kita memaknainya ternyata,
Begitu pula tentang obrolan kita kali ini,
Silakan dimaknai,
Kita shalat karena memang diperintahkan. Tentang istirahat, ini adalah sebuah hikmah. Ya, mungkin seperti kabar gembira yang dipercepat.
-------
Kita melaksanakan syariat, karena perintah, bukan hikmah. karena itu meski suatu saat kita tak merasa hikmahnya, syariat tetap masih ada.Tapi, coba sentuhlah nikmatnya lalu rasakan. Semoga surga tetap menunggu kita.
gan,, mampir blog ane juga yak www.cahenom.blogspot.com
BalasHapus