Bingung bagaimana memulai tulisan ini. Mungkin karena sudah lama tak menulis. Tapi, daripada bingung memulai, lebih baik saya tulis saja kebingungan ini. Semoga saja yang baca tidak ikut bingung. Tapi linglung *eh. Ya, maksudnya biar mau menerima sugesti dari saya.
Ya, biasalah. Kali ini saya mau berbagi lagi. Bersedia menyimak? Mari dilanjut. :-)
Di sebuah kerajaan, tepatnya di antara rakyat jelata, ada seorang pemuda yang bisa membuat ramuan ajaib. Alkisah, ramuan ini bisa membuat yang meminumnya awet muda. Tapi, pemuda ini tidak mau sembarangan memberikan ramuan ini kepada orang lain.
Kabar tersebut terdengar oleh sang Raja. Beliau tertarik dengan ramuan itu. Lalu menyuruh anak buahnya membawa pemuda itu ke hadapannya. Singkat cerita, pemuda itu sudah hadir di istana.
“Buatkan aku ramuan itu,”kata Raja. Si Pemuda menggeleng.
“Buatkan aku ramuan itu, akan kuberi kau harta yang kau inginkan,” Raja membujuk. Si Pemuda masih menggeleng.
“Buatkan aku ramuan itu, atau kepalamu kupenggal!” Raja mulai mengancam. Si pemuda tetap tak bergeming.
“Baiklah,”kata Raja, “kau akan kuberi waktu selama satu bulan dalam tahanan. Silakan pikirkan masak-masak keputusanmu. Jika masa tahanan habis, dan kau masih tidak mau membuatkan ramuan itu, maka hukuman pancung menunggumu!”
Si pemuda pun dimasukkan ke penjara tanpa perlawanan. Selama satu bulan di penjara, dia bertemu dengan dua orang yang mempunyai karakter berbeda. Pertama, raja yang tiap hari menanyakan keputusannya, lalu tiap hari pula pulang dengan kecewa dan marah karena si pemudah masih tidak mau mengubah keputusannya. Orang kedua adalah seorang petugas penjara yang setiap hari mengantarkan makanan kepada para tahanan. Setiap kali mengantarkan makanan, petugas ini selalu menyapa para tahanan dengan santun. Kepada si pemuda pun juga begitu, mereka pun sering saling bertanya kabar.
Sampai di hari terakhir masa tahanan. Saat raja kembali datang dan bertanya, dia kembali menjawab tidak mau menyerahkan ramuan itu. Waktu makan malam tiba, dan seperti biasa petugas yang mengantar makanan kembali datang.
“bagaimana kabarmu hari ini?” tanya si petugas,
“seperti yang kau lihat, kawan. Aku tak kekurangan satu apapun.”
“kudengar besok kau akan dipancung,”
“ya, karena itulah malam ini aku ingin menyerahkan resep ramuanku padamu,”
“kenapa aku? Kenapa tidak kau serahkan saja kepada raja yang menginginkannya?”
“karena kau bersikap baik padaku, sedangkan raja berlaku kasar,”
Akhirnya, si petugas menerima resep itu.
Besok harinya, saat semua telah siap untuk pelaksanaan hukum pancung, raja mengulangi pertanyaannya yang telah diulang-ulangnya selama satu bulan ini.
“apakah kau tetap pada pendirianmu, wahai pemuda?”
“Ya,” jawabnya mantap.
“Kalau begitu,” raja mulai mengambil kesimpulan dan keputusan,”semua yang hadir di sini, saksikanlah bahwa pemuda ini, hari ini, aku BEBASKAN!”
Semua terperangah, tak terkecuali si pemuda tadi.
“kenapa Baginda membebaskan saya?”
Raja tersenyum, “Ketahuilah hai pemuda, bahwa yang setiap hari mengantarkan makananmu selama di penjara adalah aku, “
-cerita dari buku Pesantren Dongeng, oleh Awang Surya. Dengan penceritaan kembali-
Ah, kawan-kawan lebih pantas untuk mengambil hikmah dari kisah ini. Silakan berbagi dengan teman yang lain, sampaikan pendapat kawan-kawan. :-)
0 comments:
Poskan Komentar