Senin, 24 Januari 2011

Kelingking Singa dan Tikus

Alhamdulillah, saya akhirnya bisa menulis note ini. Saya sudah beberapa kali menunda penulisannya karena berbagai alasan. Tentu alasan tersebut tidak perlu saya tuliskan di sini. Baiklah, seperti biasa saya punya sebuah cerita. Ini sebuah hafalan dari sebuah mata pelajaran di kelas 2 MTs dulu :



Suatu hari, seekor singa sedang tertidur pulas. [scene 1]

Di saat itu pula, seekor tikus sedang berlari-lari. [scene 2]



[scene 1 + scene 2]


Ketika tikus berlari, dia tidak sengaja berlari ke arah singa. Dia terus berlari, bahkan di atas tubuh singa. Tak ayal, singa yang sedang tertidur pulas itu bangun dengan marah. Dia mencari-cari sumber gangguan yang membangunkannya. Tikus terus berlari, dia sadar singa akan sangat marah. Tapi, usahanya sia-sia. Singa berhasil menangkapnya.



"Ampuuuuun," begitu teriak tikus ketika singa sudah membuka rongga mulut untuk melahapnya.

"Rrrroarrr...," aum singa geram, "kenapa aku harus mengampunimu?"

"Hm, hh," tikus gugup, "jika kau mengampuni dan melepaskanku sekarang, mungkin aku akan menolongmu lain kali,"

"Rrroaar...haha," aum singa sambil tertawa, "mana mungkin makhluk kecil sepertimu akan menolongku? Rrroaar, haha"

Begitulah jawaban singa. Tapi, entah ada angin apa, dia melepaskan tikus itu sambil tertawa.



Di hari yang lain, tiba-tiba di hutan terdengar auman singa. Lama sekali. Tidak biasa. Aumannya kali ini terdengar berbeda. Seperti orang yang sedang kesakitan. Aumannya terdengar terus menerus.



Tikus mendengar auman tersebut. Dia menuju ke sumber suara yang terdengar menyakitkan itu. Sampai di sana, dilihatnya singa sedang terjerat oleh jaring pemburu. Terlihat singa yang melepaskannya tempo hari sedang mengaum-aum sambil berusaha melepaskan diri. Tikus mendekat, meminta singa untuk tenang. Kemudian mulailah tikus bekerja. Dia menggigit-gigit jaring tersebut dengan gigi-giginya yang tajam. Tak berselang lama, jadilah sebuah lubang yang muat untuk singa. Singa pun keluar.



"Terima kasih, kawan," kata singa sambil mengulurkan tangannya.

"Iya," jawab tikus mantap menjabat tangan singa.

"Rrrr...maaf juga kawan soal tempo hari,"

"Hm... oke," kata tikus sambil mengeluarkan kelingkingnya.

Singa pun menyambut dan kelingking mereka melingkar. :D



"laa tahtaqir man duunaka falikulli syai'in maziyyatun"

Janganlah kau meremehkan orang lain, karena setiap hal mempunyai kelebihan.



[Qiraatur rasyidah, "al asadu wal fa'ru" , dengan penyesuaian]



Kisah yang menarik, menurut saya. Karena itulah saya masih mengingatnya sampai sekarang. Soal hikmah cerita itu, tentu tak perlu kita bahas lagi. Di teks aslinya pun pesan itu tertulis dengan jelas. 

Meski begitu, kali ini saya ingin mengaitkan cerita di atas dengan sebuah pikiran yang beberapa hari ini terlintas di pikiran saya. Ini tentang sebuah sosok. Sosok yang sangat dekat dengan kita. Tapi, sangat sering kita lupakan. Kita hanya ingat sosok ini ketika dia berbuat yang menurut kita salah, atau membuat kita kesal. Kita lupa saat kita menikmati hasil kerjanya yang bagus. Siapa?

Beberapa hari ini, ketika melihat bangunan tinggi yang bersih, entah kenapa saya terpikirkan sosok ini. Ketika melihat ruang kelas yang bersih, juga teringat sosok ini. Berkunjung ke sebuah taman yang bersih, juga ingat sosok ini. Bahkan, melihat sebuah mesjid yang bersih, juga teringat sosok ini. Sudah dapat jawabnya bukan? Ya, tukang bersih-bersih, CS-lah singkatnya.

Saya rasa sudah saatnya kita menghargai hasil kerja mereka. Mari kita sapa mereka ketika bertemu. Setelah berapa banyak tingkah dan kata kita yang kurang menghormati, menyudutkan, bahkan menghina mereka. Yuk, kita kaitkan kelingking kita dengan kelingking mereka. Meski kita tak tau pasti, siapa singa dan siapa tikusnya.

Lalu, bagaimana jika CSnya nyebelin? Menurut apa yang saya tau, senyebelin-nyebelinnya CS, masih ada manfaatnya. :D

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa"

0 comments:

Poskan Komentar